Karya: Salsa Veronika
Disuatu desa nan jauh dari keramaian, hidup seorang gadis kecil imut lucu yang bernama Nada. Nada menjalani hari-harinya seperti teman-teman pada umumnya. Sekolah, bermain, belajar dan lain sebagainya. Nada kecil yang kala itu hanya disibukkan dengan bermain, tak pernah merasakan kesedihan, tak pernah terbesit akan suatu permasalahan. Namun pada suatu hari sang ayah nada pergi meninggalkannya. Sang ayah pergi untuk mencari pekerjaan yang menurutnya dapat merubah kehidupan keluarga yang lebih baik. Namun tidak bagi nada si gadis kecil , ia tidak membutuhkan semua itu, ia lebih membutuhkan peluk hangat dan cerita dimalam hari menjelang tidur. Tapi apa daya sang ayah pun tetap meninggalkannya, entah sampai kapan ayah akan kembali.
Hari hari telah berlalu, wajah seorang ayah semakin terbiaskan oleh waktu. Kini sosok ayah telah digantikan oleh sang kakek. Nada sigadis kecil sudah beranjak dewasa. Kakek dan nenek yang sangat menyayangi nada mulai berfikir jauh, mau dikemanakan nasib nada. Kakek nenek menyadari dirinya kini semakin renta, tak mungkin bagi mereka berdua meninggalkan nada yang sementara ini tidak mempunyai bekal apa apa. Akhirnya sang kakek dan nenek pun bertekad menyekolahkan nada dengan segala kemampuan membiayainya, dengan tujuan bila kelak mereka berdua meninggal, nada telah mempunyai bekal ilmu yang dapat menyelamatkan dalam hidupnya, membawa nada pada keberhasilan. Mereka sadar hanya dengan ilmu nada dapat bertahan dan berjuang.
Kini nada telah menyelesaikan sekolah tingkat atas, sang kakek memanggil lirih dan merangkulnya sambil berbisik,”Nduk, sekolah yang tinggi ya, agar kelak kamu jadi anak yang sukses”. Nada mengangguk dan memandangi wajah nenek yang berjalan dari dapur seraya membawa segelas kopi. Sang nenek dengan mata berkaca-kaca dan senyum simpul mendekati nada seraya menyambung perkataan kakek,”Kakek Nenek sudah tua, cuman bisa kasih bekal ilmu, yaqinlah dengan ilmu kamu bakal mulia”. Sang nada mengangguk pertanda menyetujuinya. Kakek dan nenek saling memandang tersenyum lepas.
Tiba hari dimana nada berangkat melanjutkan pendidikannya, semua kebutuhan sudah disiapkan jauh jauh hari. Dengan sepeda butut berbonceng tiga, kakek dan nenek mengantarkan ke terminal. Nada yang kala itu tertawa bercanda diatas motor tiba tiba terdiam ketika bus yang akan ditungganginya datang, seakan tak kuasa membendung air mata yang ia tahan. Nada mengingat kembali ketika ia mengantarkan sang ayah beberapa tahun lalu. “Disini aku terakhir melihatmu yah, kini engkau tak memberikan kabar lagi tak kembali lagi”, batin nada sembari perlahan menatap kakek nenek yang membawakan ransel dari tempat dimana motor diparkir. Nada bebisik lirih,”kakek, nenek, Nada berjanji kelak nada pulang akan menjadi apa yang kakek nenek harapkan, nada janji, nada gak akan seperti ayah, yang dulu berjanji sama nada untuk pergi sebentar dan pulang membawa banyak uang”. “Ini nada…! Malah ngalamun, malah nangis, dah ga usah nangis, kakek nenek dah ikhlas, yang penting nada belajar yang tekun, yaqinlah kesuksesan menunggumu..”, kata sang nenek sembari menepuk pundak nada yang melamun.Nada bersalaman dengan kakek dan nenek, menggendong ransel dan naik ke atas bus yang sudah menunggu para penumpang.
Dalam kehidupan yang baru, Nada menemukan banyak pelajaran yang ia petik. Terlebih ia menemukan sosok seorang guru yang bukan hanya pandai dalam hal akademik, namun ia menemukan sosok yang juga pandai dalam hal spiritual dan dapat menuntun, memotivasi untuk keberlangsungan hidup seorang Nada. “Ibuk”, begitu Nada memanggil kepada Ibu Ani, guru yang penuh wibawa dan penuh kasih sayang itu. Ibu Ani memberikan seluruh kasih sayang kepada Nada seperti memberikan kasih sayang kepada anak sendiri. Bukan hanya itu, Nada diminta oleh Ibu Ani untuk tinggal bersamanya dalam satu atap. Dengan senang hati Nada menerima tawaran itu. Nah, disinilah Nada menemumakan pelajaran yang sebenarnya, setiap hari Nada dididik oleh Bu Ani, baik secara lisan maupun dengan perilaku Bu Ani yang penuh dengan berbagai hal positif. Bu Ani mengajarkan betapa pentingnya Ibadah, hidup sederhana, Sosial yang baik dan lain sebagainya.
Empat tahun sudah Nada hidup bersama Bu Ani , kini nada menjadi pribadi yang Dewasa, sederhana dan pandai menata kehidupan. Dengan kecantikan dan kepribadian yang baik itu seorang laki-laki bernama Rama yang sudah dari lama mengaguminya memberanikan diri untuk menyatakan cinta dan bertekad untuk meminangnya. Namun sekali lagi, Nada tak berani menerimanya bila itu tanpa restu dari kakek nenek dan juga Bu Ani, meski sebenarnya Nada pun jatuh hati kepadanya. Rama yang kala itu tidak mau kehilangan kesempatan, bertolak ke Desa dimana kakek dan nenek Nada tinggal. Dengan karir dan pribadi yang baik itu, kakek dan Nenek Nada menerima pinangan Rama. Setelah itu Ibu Ani yang juga kala itu sedang bersantai di teras rumah, terkaget melihat Rama yang tiba tiba datang dan menyampaikan perasaannya terhadap Nada. Memang antara Bu Ani dan Rama bukanlah orang asing, rumah mereka berdekatan. Namun selama ini tidak ada kecurigaan Bu Ani terhadap Rama yang ternyata mencintai Nada. Bu Ani yang memang paham betul dengan pribadi Rama, langsung menyetujuinya. Akhirnya Nada telah menemukan kebahagiaan yang semua harapkan.
Nada yang selama ini mencari keberadaan ayah juga telah menemukan titik terang, sang ayah dapat dihubungi dan berkenan untuk pulang, hadir menjadi wali di acara pernikahan Nada. Nada berbisik dalam hati,” Ayah, Nada sama sekali tidak benci dengan Ayah, Nada sayang Ayah.” Nada mempunyai keyakinan, semua yang ada dalam kehidupan ini sudah diatur oleh Tuhan. Andai dari kecil kehidupan Nada dimanjakan oleh kehidupan keluarga, mungkin Nada tidak akan sampai pada titik ini. Nada dapat menyelesaikan pendidikan, Nada dapat menemukan sosok guru hebat seperti Bu Ani, Nada menemukan pendamping hidup yang menyempurnakan kehidupan Nada. Dan akhirnya Nada pun hidup bahagia seperti apa yang kakek dan nenek harapkan.
